Total Tayangan Laman

Rabu, 05 Oktober 2011

ANALISIS NOVEL BURUNG MANYAR-->TOKOH TETO & ATIK

AGRESIVITAS PERWATAKAN SETADEWA: KAJIAN PSIKOANALISIS 
TOKOH UTAMA NOVEL BURUNG-BURUNG MANYAR
MAKALAH



A.                       Latar Belakang Masalah

Sastra merupakan suatu lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Sebagian besar sastra menampilkan gambaran kehidupan masyarakat (kenyataan sosial). Sastra lahir di tengah-tengah masyarakat, sehingga pada akhirnya sastra tetap melibatkan diri pada masyarakat.
Sastra muncul dari proses kreatif yang memerlukan daya cipta yang secara khas dimiliki oleh seniman, khususnya sastrawan. Dalam hal ini sastrawanlah yang berperan penting dalam tugas meneruskan kehadiran sastra yang setiap waktu dapat terjadi dalam masyarakat. Kami memilih novel tersebut karena rasa keingintahuan kami terhadap isi dari novel Burung-burung Manyar. Selain itu, novel tersebut ditulis oleh Y.B Mangunwijaya, seorang pengarang  yang pernah mendapat penghargaan The Professor Teeuw Award di Leiden, Belanda, untuk bidang susastra dan kepedulian terhadap masyarakat.
Karya sastra yang banyak dianalisis sampai saat ini adalah sastra modern, khususnya novel. Untuk mewujudkan keseimbangan di antara keduanya, yaitu antara sastra modern itu sendiri dengan sastra lama, perlu ditingkatkan penelitian untuk jenis sastra yang terakhir ini. Hal ini perlu diperhatikan dengan pertimbangan bahwa khazanah sastra lama kaya dengan nilai-nilai yang pada dasarnya sangat diperlukan dalam rangka membina semangat dan kesatuan bangsa. Sesuai dengan visi Postrukturalisme, membangkitkan peran serta budaya.Karya sastra dihasilkan oleh seorang pengarang, tetapi masalah-masalah yang diceritakan adalah masalah-masalah masyarakat pada umumnya. Karya sastra menceritakan seorang tokoh, suatu tempat dan kejadian tempat tertentu, dan dengan sendirinya melalui bahasa pengarang.tetapi yang diacu adalah manusia, kejadian dan bahasa sebagaimana dipahami oleh manusia pada umumnya.dalam hubungan inilah disebutkan bahwa pengarang adalah wakil masyarakat, pengarang sebagai konstruksi transindividual, bukan dirinya sendiri. Karya sastra yang berupa Novel dianggap paling dominan dalam menampilkan unsure-unsur sosialnya karena novel menampilkan unsure-unsur cerita yang paling lengkap, memiliki media yang paling luas, bahasa novel cenderung merupakan bahasa sehari-hari yang umum digunakan dalam masyarakat.
Pengarang novel Burung-Burung Manyar yaitu Y.B Mangunwijaya
berusaha mengajak pembaca dan penikmat untuk mengerti dan memahami bahwa dalam kehidupan ini, manusia tidak terlepas dari permasalahan-permasalahan, baik yang disengaja maupun tidak, ini terbukti yang dialami oleh Y.B. Mangunwijaya. Semasa masih mudah dia memiliki pengalaman tersendiri ketika ikut perang gerilya. Sehingga pengalaman tersebut banyak mengilhami dan memberi dorongan atas terbitnya novel Burung-Burung Manyar.tak salah lagi kalau isi dari novel tersebut seakan –akan terjadi di masyarakat. Jika dibaca dan dipahami secara mendalam, novel Burung-Burung Manyar ini dapat diketahui bahwa pengarang tidak sekedar ingin menyampaikan sebuah cerita demi cerita saja.ada sesuatu yang dikemas dalam cerita itu, lewat kata-katanya yang teratur Y.B Mangunwijaya menggambarkan pergolakan perebutan kekuasaan antara Indonesia, Belanda, Jepang serta Inggris yang tak mau lepas untuk campur tangan. Disamping itu menggambarkan pula pergolakan cinta kasih yang abstrak antara tokoh Setadewa dengan Larasati. Perjalanan cinta antara kedua tokoh ini sangat panjang. Namun tak pernah bersatu akibat dari lika-liku kehidupan. Pergolakan cinta kasih ini dalam novel digambarkan seiring dengan pergolakan kekuasaan di wilayah Indonesia.
            Selain itu, perkembangan zaman dan teknologi yang semakin maju telah memunculkan banyak karya sastra modern yang dikemas dalam bentuk yang tak kalah menarik dan dengan bahasa yang lebih santai. Dengan membaca karya sastra lama seperti novel sastra ini, secara tidak langsung kita telah melestarikan keberadaannya. Sehingga karya sastra lama (novel / roman) dapat tetap hidup dan “eksis” di era global.

            Ada pertalian cerita roman ini dengan kebiasaan yang dilakukan burung manyar, sebagaimana tertulis dalam disertasi Atik yang bertajuk Jati Diri dan Bahasa Citra dalam Struktur Komunikasi Varietas Burung Ploceus Manyar;
Atik menjabarkan kehidupan satwa tersebut dengan detil. Menjelang dewasa, burung manyar jantan berlomba merakit sarang yang paling indah agar dipilih burung manyar betina. Sementara manyar jantan membuat sarang, manyar betina hanya berleha-leha, sambil sesekali memerhatikan si manyar jantan membangun sarang.
Setelah selesai sarang dibangun, manyar betina memilih sarang yang paling mereka sukai, dan manyar jantan yang tidak terpilih sangat kecewa dan membuang begitu saja sarang yang telah dibangunnya dengan susah payah. Akan tetapi, meski tidak terpilih, manyar jantan itu tak patah arang. Dicarinya lagi alang-alang, daun tebu, dan lalu ia rakit lagi sarangnya sembari berharap ini kali ada seekor manyar betina yang terpikat.
Setadewa bisa diibaratkan sebagai manyar jantan yang tidak terpilih. Kesedihan dan kegagalan yang dialami oleh manyar jantan setidaknya juga dialami oleh Setadewa ketika mengetahui bahwa Atik yang selama ini diidamkannya telah menjadi milik orang lain. Sebagaimana burung manyar jantan, ia tidak putus asa. Ia mencoba untuk bangkit lagi. Ia kemudian menjadi kakak angkat bagi Atik dan pada akhirnya merawat anak-anak Atik.
Cerita dalam novel ini menjadi pilihan karena Mangunwijaya menyampaikan dengan pilihan kata yang lugas, dan kadang-kadang diselipkan cerita pewayangan. Ada beberapa katakata yang terdengar kasar dan mungkin sedikit rasial, tetapi bisa jadi membuat kisah menjadi jenaka ataupun semakin menarik,


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana unsur intrinsik yang ada pada novel ini?
2.      Bagaimana unsur ekstrinsik novel Burung-burung Manyar?
3.      Bagaimana perwujudan rasa nasionalisme tokoh Teto dalam novel ini?
4.      Bagaimana implementasi nilai-nilai pada novel Burung-burung Manyar dalam kehidupan saat ini?

C.     Tujuan
1.      Untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan logis.
2.      Untuk mengasah kepekaan rasa agar terjadi keseimbangan antara IQ, EQ, dan SQ.
3.      Untuk mengidentifikasi unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik pada novel tersebut.
4.      Untuk mengetahui nilai-nilai dalam novel Burung-burung Manyar yang dapat diiterapkan dalam kehidupan saat ini.
D.    Manfaat
1.      Makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu media pembelajaran yang bermanfaat bagi siswa.
2.      Melestarikan sastra lama Indonesia.
3.      Menambah penggetahuan para pembaca mengenai situasi atau kisah pada masa lalu yang diceritakan dalam novel ini.



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Unsur Intrinsik

1.Tema
   a. Utama          : Kisah seorang anak manusia yang merasa gagal dalam menjalani hidup karena trauma masa lalu.
Mengisahkan perjuangan seorang anak (Teto) yang mulai tumbuh dewasa ditengah situasi politik yang tidak menentu. Pada saat itu sedang terjadi perebutan kekuasaan antara Belanda dan Jepang di Indonesia. Situasi ini menuntut semua pihak untuk menyesuaikan diri. Teto yang terbiasa hidup dengan predikat anak kolong harus mengalami suatu kondisi dimana ia dijadikan sebagai letnan KNIL oleh Komandan Verbruggen dari Belanda. Dia berjuang untuk mengembalikan kekuasaan Belanda di Indonesia, setiap hari dia melakukan patroli-patroli keamanan bersama serdadu-serdadunya. Kekalahan yang diderita pasukan KNIL Belanda terhadap pejuang Republik Indonesia membuat Teto frustasi. Teto sangat malu kepada Atik dan keluarga. Semangat hidup Teto melemah.
Kekalahan tentara KNIL Belanda membuat hati Teto menjadi ciut. Dia merasa malu pada dirinya, malu terhadap Larasati wanita yang sangat dicintainya. Bila Larasati berjuang membela bangsanya sendiri, dia malah membela musuh. Pada saat itu larasati mengabdi di departemen luar negeri. Karena perasaan malunya itu, Teto memutuskan untuk keluar dari Indonesia dan berangkat ke Amerika. Di negara tersebut, dia masuk Universitas            Harvard mengambil jurusan komputer dan mendapat gelar doktor.
Setelah tamat dari Universitas Harvard, Teto bekerja di sebuah perusahaan besar di Amerika bernama Pacifik Oil Wells Company sebagai tenaga analisis komputer.
b). Sub Tema   : Cinta (Percintaan antara Teto dan Larasati(atik))
Teto dan Atik sudah bersahabat sejak kecil. Teto hidup tidak bersama kedua orang tuanya. Ibunya, Marice menjadi gundik tentara Jepang sedangkan ayahnya, Kapten Basuki seorang prajurit KNIL hilang ketika perang. Jadi, keluarga Atiklah yang merawat Teto kecil. Atik yang pada awalnya malu mengakui rasa cintanya kepada Tet angathangutan yo pada akhirnya ia mengakui ketertarikannya secara terang-terangan di depan ibunya.
Dia juga teringat Larasati, kekasih yang sangat dirindukannya. Semua itu berkecamuk dalam hatinya. Dia merasa malu kepada Larasati dan takut bertemu dengannya. Namun ia sangat merindukanna. Dua perasaan yang saling bertentangan berkecamuk dalam dadanya.
Secara diam-diam, Teto menghadiri acara presentasi gelar dokter yang akan dilakukan Larasati di Jakarta. Selama presentasi tersubut, dia hanya diam dan bersembunyi di balik orang-orang yang hadir. Setelah selesai membacakan disertasinya, Larasati mendapat sambutan yang hangat dari semua yang hadir. Ketika orang-orang berebutan memberi ucapan selamat kepadanya. Teto tidak berani melakukannya. Padahal, dia sangat ingin menyentuh tangan kekasihnya itu. Perasaan malu dan bersalah dalam dirinya semakin memuncak saat dia mendengar disertasi yang dibacakan Larasati. Disertasi itu membahas tentang burung-burung manyar itu persis seperti tingkah laku dirinya.


  2. LATAR
Terjadi pada zaman modern dengan berlatar belakang kehidupan berbagai masa: masa lalu, masa revolusi, dan masa penjajahan jepang maupun belanda. Cerita ini terjadi di Indonesia (Jakarta dan Bogor)
a.WAKTU
a.       Bagian I : 1934-1944(masa sebelum kemerdekaan)
b.      Bagian II : 1945-1950(masa awal kemerdekaan)
c.       Bagian III : 1968-1978
b.TEMPAT
a.       Magelang
Ketika masih kecil ia hidup bersama ayahnya yang menjadi prajurit KNIL yang bertugas di Garnisun divisi II Magelang. Di Magelang pula tempat ibunda Teto dimakamkan. “ Masuk Magelang seperti masuk sarang lebah, begitu banyak manusianya” (Mangunwijaya,2001:188)
b.      Jakarta(sekitar kemayoran)
Daerah kemayoran merupakan daerah kekuasaan Teto ketika menjadi Letnan KNIL. Pada saat operasi ke Klender Teto bertemu dengan perdana Menteri Syahrir. “Perdana menteri itu harus kuajar. Rakyatnya akan kucambuk. Hari itu, Klender, Tanah Abang, Kwitang merasakan apa konsekuensinya menghadapi jago KNIL.” (Mangunwijaya,2001:63)

c.       Solo
Tempat Atik dan Bu Antana pulang kampung menjenguk saudaranya.  Keluarga Atik juga mengungsi ke Surakarta ketika terjadi kekacauan politik. “Segera aku mengerti, ada masalah gawat. Mereka berlindung di dalam puri Surakarta. (Mangunwijaya,2001:29)
d.      Jogjakarta
Saat terjadi perebutan kekuasaan, para pemimpin RI dipindahkan ke Jogjakarta. Sebelumnya, para pejuang RI sudah berhasil merebut Kota Jogja , tetapi baru enam jam mereka menguasai kota, tempat itu berhasil direbut kembali oleh serdadu Belanda. Pada Peristiwa ini Teto, sebagai Kapten KNIL ikut berperang merebut kembali kota Jogja dari pasukan RI. “keesokan harinya, Belanda Bergerak ke  Yogya, kota kabupaten diduduki musuh. (Mangunwijaya,2001:104)
e.       Semarang
Semarang merupakan tempat Teto bersekolah tingkat lanjutan.
“Aku memondok di Semarang untuk meneruskan sekolahku di Sekolah Menengah Tinggi(SMT). Aku senang di Semarang.” (Mangunwijaya,2001:26)



c .SUASANA
         Suasana awal kemedekaan yang serba tidak menentu, baik di sistem politik maupun kejelasan siapa yang menguasai daerah RI.

Kesedihan dialami oleh Teto karena ia harus berseberangan kubu dengan Atik. Teto berada di kubu Belanda dengan menjadi Kapiten KNIL sedangkan Atik berada di kubu RI dengan menjadi sekretaris Syahrir, Perdana Menteri RI. Kondisi ini membuat Teto sedikit bimbang dengan tindakannya saat ini. Kesedihan Teto ditambah dengan ketidakjelasan nasib kedua orang tuanya. Ayahnya, Brajabasuki yang pada awalnya dikabarkan meninggal, tetapi diindikasikan bahwa ia masih hidup dan berada di penjara.
Suasana menegangkan:
“Tetapi ketika tembakan-tembakan itu menyambar di sekitar mereka, doa-doa berhenti dan hanya setengah sadar mereka menggelimpangkan diri dalam lumpur. Lama mereka bagaikan mayat disitu. Setelah lama sekali ditunggu dan tidak datang hantu bercocor merah itu, mereka menongolkan kepala-kepala mereka. Mobil terbakar dengan api yang sangat panas.”

3.Tokoh dan Penokohan
1). Teto atau Setadewa
Teto merupakan seorang pemuda yang berpendidikan tinggi. Dia adalah seorang doktor tamatan Universitas Harvard yang menjadi ahli komputer di sebuah perusahaan besar di Amerika. Dia adalah anak seorang kepala garnisun II pada masa KNIL Belanda. Ia lebih mencintai Belanda daripada negerinya sendiri. Berdasarkan frekuensi kehadiran atau keterlibatannya, Satadewa atau Teto merupakan tokoh sentral dalam cerita itu.
Dari episode novel yang ada, ternyata Teto mendominasinya, ia hampir selalu hadir dan terlibat dalam setiap episode, kecuali pada episode 4, 9, 11, 13 dan episode 14. Jadi, tokoh Teto terlibat dalam 17 episode novel yang ada. Oleh karena itu, tokoh Teto dapat dinyatakan sebagai tokoh sentral. Ketidakhadiran tokoh sentral dalam kelima episode tersebut mempunyai fungsi tersendiri.
Ketidakhadiran tokoh sentral di dala episode 4 dalam Burung-Burung Manyar berfungsi memberi kesempatan pada tokoh feriferal Atik (Larasati) dan kedua orang tuanya untuk membicarakan tokoh sentral. Walaupun dalam episode ini Mangunwijaya tidak secara ekplisit menunjuk pada nama tertentu, pembicaraan antara tokoh-tokoh feriferal mengisyaratkan bahwa pokok permasalahannya ditujukan untuk menanam rasa simpati ketiganya pada tokoh sentral.
            Ketidakhadiran tokoh Teto dalam episode 9 adalah untuk memaparkan atau meng-gambarkan Atik dan ayahnya, untuk memberi kesempatan kepada tokoh lain buat membicarakan tokoh sentral, dan untuk menunda komplikasi dan atau ketegangan cerita. Episode 9 ini sesungguhnya menceritakan meninggalnya ayah Atik yang disebabkan oleh serangan Belanda. Artinya, kematian itu secara tidak langsung juga disebabkan oleh tokoh sentral Teto. Sementara pada saat yang bersamaan sesungguhnya Tetopun ikut dalam penyerbuan ke Yogya tersebut.

           








Dalam episode 11, ketidakhadiran tokoh sentral berfungsi untuk melukiskan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh prilaku-prilaku Belanda, dimana tokoh sentral termasuk di dalamnya.
Dan episode 13, ketidakhadiran tokoh sentral berfungsi memberikan kesempatan pada tokoh Atik dan Ibunya (Bu Antana) untuk membicarakan tokoh sentral. Pembicaraan ini terfokus pada tebalnya rasa simpati mereka pada tokoh sentral.
Dalam episode 14, ketidakhadiran tokoh sentral berfungsi untuk membeberkan situasi sesudah perang kemerdekaan dan memberikan kesempatan kepada tokoh feriferal, Tuan Ambasador melihat-lihat kemajuan pembangunan yang telah dicapai oleh Indonesia. Kehadiran tokoh feriferal Tuan Ambasador berfungsi untuk merambah jalan bertemunya tokoh sentral dengan tokoh feriferal Atik (Larasati).
Watak : a). Fanatik Belanda dan sangat membenci Jepang.
“Dan semakin bencilah seluruh jiwaku kepada segala yang berbau Jepang.”
(Mangunwijaya,2001:34)
b).Baik hati, jujur, dan cerdas
Bukti kutipan : “Itu anak lelaki yang baik hati,” kata ibunya.”Cerdas di sekolah, hampir selalu nomor satu dan jujur.
2). Larasati atau Atik
Atik, secara citra diri adalah pahlawan. Ia telah menjadi sekretaris Republik pada usia yang sangat muda. Kelebihan tokoh Atik adalah pada sifatnya yang prenjak dan kiprah, yaitu lincah, cerdas, dan bersemangat. Dalam jati dirinya terlihat ia masih kekanak-kanakan, manja, dan kenes. Mungkin karena ia adalah anak tunggal yang masih diasuh ibunya sampai dewasa. Ia belum menyadari arti cinta dan kepemimpinan sejati yang dicurahkan oleh Jana, suaminya. Ia kurang peka menangkap kekuatan dan kepahlawanan dalan diri Jana. Sebelum diberi pengertian oleh Teto, ia hanya melihat Jana dari sisi citra diri, tidak berusaha menyelami jati dirinya.
Watak : Prenjak dan kiprah, yaitu lincah, cerdas, dan bersemangat.

3). Janakatamsi
Pemuda medern yang berpendidikan tinggi. Dia termasuk anak seorang kaya yang berhati baik. Dialah suaminya Larasati. Ayahnya adalah seorang direktur Rumah Sakit Jiwa Kramat.  Citra dirinya di mata Atik kurang menyenangkan. Ia dianggap kurang gagah. Ia bukan orang yang suka menonjolkan diri. Hanya orang yang dianugerahi pengamatan batin yang tinggi yang mampu melihat kecemerlangan jati dirinya. Ia mampu mecintai secara mendalam dan tanpa pamrih, sampai-sampai serasa cintanya disia-siakan oleh Atik. Atik mengatakan bahwa Jana baik, tetapi lemah, Atiklah yang selalu memimpin
Watak : Pendiam
Bukti kutipan
“Memimpin tidak selalu dengan komando. Kualitaslah yang memimpin dan kualitas sering menang tanpa kata… Ia memimpin seperti alam raya ini. Tanpa kata. Seperti karakter. Dengan pengertian.”

4). Letnan Barjabasuki
Beliau adalah seorang kepala Garnesun II dimasa KNIL Belanda dengan pangkat letnan. Gelar itu diperolehnya dari Akademi Breda Belanda. Dia adalah keturunan keraton dan merupakan ayah kandung Teto.
Watak Pemberani
“Tak kenal kutanyai mami , siapa yang mengambil peti radio itu?”
“Papimu  berani mengambilnya sendiri”
Dari kutipan di atas menunjukan keberanian Letnan Barjabasuki untuk mengambil peti radio di markas Jepang.



5). Ibu Teto atau Istri Letnan Barjabasuki
Ibu Teto adalah wanita berhati mulya keturunan Indo-Belanda. Demi menyelamatkan suaminya, dia rela mengorbankan jiwa raganya. Dia rela menjadi wanita pemuas nafsu tentara-tentara Jepang. Karena tidak sanggup menahan penderitaan lahir batin, akhirnya dia menjadi penghuni rumah sakit jiwa.
Watak : Tabah

6). Mayor Verbruggen
Mayor Verbruggen salah seorang pimpinan tentara KNIL Belanda ketika agresi Belanda kedua. Ia berwatak keras tetapi sangat menyayangi Teto yang sepertinya sudah dianggap sebagai anaknya sendiri.
Watak keras dan suka berbicara kasar
Bukti kutipan: “Reaksinya keras dan serba menghina: Verdomme, kamu masih mau menetek”

7). Bu Antana
Bu Antana seorang ibu yang baik. Dia ibu kandung Atik atau Larasati. Ia menyayangi anak tunggalnya. Ia seolah tidak rela jika suatu saat nanti ia berpisah dengan anaknya saat anaknya ketika sudah bersuami.
Sifat : Penyayang. 
 “Ibu Antana selalu menunjukan kesayangan padaku. Tetapi petang itu lebih dari biasanya. Diciumlah batu kepalaku.” (Mangunwijaya,2001:33)



8). Pak Trunya
            Pak Trunya merupakan warga desa sikEtar Kaliurang yang menolong Atik dan ayahnya ketika diserang pesawat Belanda.Atik selamat, tetapi bapaknya meninggal. Bersama warga desa lain Pak Trunya memakamkan bapaknya Atik.
Watak : Penolong
Bukti kutipan : “Dengan sekuat tenaga gadis itu dibawa Pak trunya menuju ke selokan untuk menghindari tembakan dari pesawat Belanda.” (Mangunwijaya,2001:88)

9). Barbara
Barbara adalah istri Teto, dia anak seorang direktur pacifik Oil Wells Company.
4. ALUR
            Alur cerita dalam novel Burung-Burung Manyar yaitu menggunakan alur maju, dimana setiap kejadian selalu bergerak maju sesuai dengan perputaran waktu.
5. SUDUT PANDANG
Cerita pada novel ini berpusat pada Teto, sehingga mayoritas ceritanya berkitar-kitar pada kehidupan privat Teto dan pergumulan batinnya. Di beberapa bagian cerita, Atik memang diceritakan, akan tetapi naratornya bukan orang pertama, melainkan orang ketiga. Sejak awal cerita, Mangunwijaya langsung mengajak pembaca untuk berdialog. Konflik kejiwaan macam apa yang dialami si tokoh yang menyebut dirinya Aku?. Hal itu membentang sepanjang lima belas bab novel ini, dari jumlah keseluruhan dua puluh dua bab. Bagian pertama terdiri dari empat bab, bagian kedua terdiri sembilan bab, dan bagian ketiga terdiri sembilan bab juga.
 Tokoh Teto atau Satadewa dipandang sebagai pemuda yang gagal dalam hidupnya. Ia dianggap sebagai sosok yang sikapnya sesuai dengan burung-burung manyar. Ia lebih mengutamakan kepentingan bangsa Belanda dibanding dengan bangsanya sendiri, bahkan ia ikut serta dalam pemberontakan terhadap tentara Republik.
            Tokoh Larasati adalah seorang wanita yang berpendidikan tinggi. Ia adalah seorang yang setia terhadap Nusa Bangsanya sendiri. Dalam hidupnya ia pergunakan untuk mengabdi terhadap Tanah Airnya.
                                                   
6. KONFLIK
Teto menjadi bagian dari tentara KNIL sedangkan atik bekerja padamusuh teto yakni  perdana menteri Syahrir.
“Bagaimana pun aku salah. Sebab pastilah Atik sangat terkejut melihat seragam NICA-ku wajahnya pucat seperti marmer. Aku butuh Atikku agar aku hidup terus. Tetapi gadis itu ada di pihak musuhku dan harus kuhitung sebagai musuh. Dan semakin menjadi-jadi beniku kepada orang-orang Republik itu, yang merenggut satu-satunya harapan dan tumpuan jiwaku yang merana ini.”

7. AMANAT
            Pesan pengarang yaitu ingin memperlihatkan kepada masyarakat pada saat itu bahwa pengabdian terhadap Bangsa sendiri lebih baik dan lebih terhormat dari pada mengabdi kepada Bangsa lain (Belanda). Hal ini di contoh oleh tokoh yang bernama Satadewa yang dalam hidupnya mengabdikan diri kepada Belanda, akhirnya ia harus menanggung malu terhadap Bangsanya.
            Di sisi lain pengarang juga mengamanatkan sisi positif dari sifat Teto yaitu penolong seperti pahlawan. Seorang pahlawan sejati melakukan kebaikan tanpa pusing dengan citra diri. Jati diri yang kuat menopangnya, sehingga ia mampu terus berjuang dengan atau tanpa penghargaan dari manusia lain. Inilah yang disebut dengan keseimbangan antara jati diri dengan citra diri. Ketika jati diri baik, orang itu akan merasakan citra dirinya juga baik. Sebaliknya, untuk mencapai perasaan bahwa citra dirinya baik, seseorang harus mempunyai jati diri yang baik. Kutipan berikut dapat menjelaskan lebih lanjut,
…jati diri kita sebenarnya mendambakan arti, makna, mengapa, dan demi apa kita saling bergandengan, namun juga berkreasi aktif dalam sendratari agung yang disebut kehidupan. (Mangunwijaya,2001:211)
            Menjadi pahlawan yaitu memahami arti dan melakukan sesuatu untuk kehidupan.Pelajaran mengenai jati diri dan citra diri dapat disarikan melalui tokoh-tokohnya. Teto disamakan dengan Kakrasana yang seta (bersifat putih) namun memihak Kurawa (pihak antagonis). Pada awalnya, ia bercitra diri sebagai pengkhianat di mata bangsa Indonesia. Beban kehidupan yang harus ditanggungnya sungguh berat. Jati dirinya tabah dan dewasa, mungkin karena pada usia muda ia harus betul-betul mandiri. Ayahnya tak diketahui kabarnya dan ibunya hilang ingatan. Rasa cinta kepada ibunya sangat besar, sehingga perlakuan Jepang terhadap ibunya membuncahkan amarah terhadap Jepang. Kebenciannya itu diperluas menjadi kebencian terhadap Indonesia juga, karena ia melihat bangsa Indonesia dan Jepang seolah bersatu melawan Belanda, negeri asal ibunya. Pada akhirnya ia berubah haluan. Ia memihak Indonesia dengan mengorbankan diri sendiri. Indonesia disadari sebagai pengejawantahan ibunya. Dari lubuk hati, ia tetap mencintai tanah airnya.
8. GAYA PENULISAN/MAJAS
Bahasa yang digunakan dalam novel burung-burung manyar adalah bahasa gaul atau bukan bahasa baku.


B.    AGRESIVITAS TOKOH SETADEWA
            Bagi yang akrab dengan ilmu jiwa, dalam hal ini psikoanalisis, tentu akan mengetahui bahwa sejak dari kemunculannya psikoanalisis sangat akrab dengan dunia sastra. Freud sendiri sebagai pendiri psikoanalisis mengakui banyak pemikirannya yang terinspirasikan dari karya-karya sastra. Pada perkembangannya dunia sastra bukan hanya memberi inspirasi bagi psikoanalis namun telah pula menjadi bahan kajiannya. Bagi psikoanalis, sastra merupakan bahan kajian yang kaya akan sisi terdalam kemanusiaan. Sastra merupakan produk ketaksadaran yang bukan hanya milik sang Pengarang, tetapi juga milik kemanusiaan. 

            Pemilihan kajian terhadap novel Burung-Burung Manyar ini dilakukan karena novel tersebut mengangkat fenomena agresivitas tokoh utamanya di masa yang penuh agresi, yakni revolusi bangsa Indonesia. Lagi pula, novel Burung-Burung Manyar yang diterbitkan oleh Djambatan tahun 1981 ini telah memperoleh Hadiah South East Asia Write Award pada tahun 1984 di Thailand. Karena itu, apresiasi terhadap novel Burung-Burung Manyar ini secara tidak langsung sebagai upaya membuat suatu kajian terhadap novel-novel Indonesia yang bermutu Internasional. 
            Untuk menunjang upaya tersebut, dalam tulisan ini sebelumnya penulis akan menguraikan terlebih dahulu mengenai pandangan psikoanalisis tentang agresivitas. Kemudian, akan dilanjutkan dengan uraian mengenai kajian psikoanalisis terhadap tokoh utama novel Burung-Burung Manyar.

1). Pandangan Psikoanalisis Mengenai Agresivitas
            Pada umumnya agresi diartikan sebagai perilaku menyerang atau merusak benda hidup maupun benda mati. Agresi dapat dibedakan menurut sifat fisiknya seperti memukul, menendang, atau bersifat verbal seperti mengumpat, memaki atau mengancam. Agresivitas telah dipelajari dengan dua pendekatan utama, yakni pendekatan belajar (behaviorisme) dan pendekatan biologis (naluriah). Tulisan ini akan menyandarkan diri pada pandangan seorang tokoh psikoanalisis, yakni Sigmund Freud. 
Freud dalam psikoanalisisnya berusaha memberi penjelasan bersistem mengenai agresi sebagai bentuk naluriah tingkah laku. Psikoanalisis dirumuskan oleh Freud sebagai ilmu jiwa yang menekankan dinamika kepribadian pada proses yang lebih banyak bersifat tak sadar. 
            Ketidaksadaran adalah kawasan terbesar dari kehidupan psikis yang di dalamnya terdapat suatu unsur-unsur atau sistem yang berisikan naluri-naluri. Menurut Freud sebagian tingkah laku manusia diatur oleh naluri dan disebabkan oleh kebutuhan fisik yang memotivasi orang untuk memuaskannya sehingga proses fisik itu mencapai keseimbangan. Dalam hal ini, karena naluri dapat berubah maka objek naluri pun dapat berpindah dari satu objek ke objek lain dalam usaha meraih kenikmatan atau menghilangkan ketegangan. 
            Freud mengklasifikasikan naluri ke dalam dua kelompok, yakni naluri kehidupan (Libido atau Eros) dan naluri kematian (Thanatos). Pengungkapan naluri kematian tidak lain adalah agresi diri. Pada tingkat yang parah, agresi diri bila diarahkan ke dalam menjadi tingkah laku masokhis untuk menyakiti bahkan membunuh diri sendiri, dan bila di arahkan keluar ke objek-objek substitusi (pengganti) menjadi agresi. Agresi yang diikuti perasaan senang disebut sadistik, sedangkan bila agresi menjadi perilaku yang merusak atau menghancurkan, disebut destruktif.
            Pada dasarnya tiap individu memiliki keinginan untuk mengekspresikan naluri kematian dalam bentuk impuls agresi, akan tetapi masyarakat melarang bahkan menghukum jika individu tidak patuh. Dalam hal ini, tiap individu berusaha memecahkan konflik diri dan sosial tersebut dengan jalan realistis untuk memuaskan kebutuhannya. Ini berarti individu harus mengikuti aturan tingkah laku yang telah digariskan oleh masyarakat dalam pendidikan moral. Jika individu tidak dapat mengekspresikan dorongan naluriahnya maka ia akan mengalami frustasi.

            Frustasi dijelaskan oleh Freud sebagai sesuatu yang menghalangi bekerjanya “prinsip kesenangan”. Selain karena tidak tersalurkannya dorongan naluri serta dikarenakan kecemasan, frustasi disebabkan karena beberapa hal. Pengurangan, jika benda yang merupakan tujuan tidak ditemukan. Penghilangan, jika benda yang merupakan tujuan disembunyikan atau diambil. Pertentangan, jika ada suatu tenaga penentang dalam diri yang mencegah untuk mencapai kepuasan. Kekurangan Pribadi, jika seseorang itu kurang memiliki kecakapan yang diperlukan, pengertian, intelegensi atau pengalaman untuk mengadakan penyesuaian yang memuaskan.
Cara seseorang menghadapi dan mengatasi atau menyesuaikan diri terhadap penyebab frustasi, membentuk ciri khas kepribadian atau perwatakan. Cara tersebut disebut alat-alat kepribadian. Ada beberapa alat-alat kepribadian yang disodorkan Freud dan para pengikutnya. Namun, untuk keperluan kajian ini yang diajukan hanya tiga, antara lain: identifikasi, pemindahan, dan mekanisme pertahanan ego. 
            Pertama, identifikasi adalah penyatuan dari sifat-sifat objek luar, biasanya yang dimiliki oleh orang lain ke dalam kepribadian seseorang. Identifikasi ada empat macam, yaitu: (1) identifikasi narsisme, (2) identifikasi ke arah tujuan, penyatuan individu dengan seseorang yang telah mencapai tujuan individu, (3) identifikasi objek yang hilang, penyatuan individu dengan objek kesukaan yang telah hilang, (4) identifikasi dengan penyerang, penyatuan atau penghayatan individu terhadap larangan-larangan yang didesakkan oleh orang lain (otoritas) yang berkuasa atas diri individu.
            Kedua, pemindahan adalah proses penyaluran energi rohani dari satu objek ke lain objek tanpa merubah sumber dan tujuan suatu naluri. Jadi, yang berubah hanyalah objek yang menjadi tujuan. Misalnya, pemindahan yang terjadi dalam pemuasan mulut yang diawali dengan menggigit, kemudian setelah dewasa menjadi pengejek atau seorang yang judes (ketus). Sublimasi sendiri dijelaskan sebagai bentuk pemindahan namun objek penggantinya merupakan tujuan kultural yang lebih tinggi. Seorang yang memilih untuk menjadi penegak hukum, pengacara, politikus adalah contoh dari sublimasi. 
            Mekanisme pertahanan ego adalah cara irasional untuk menghadapi kecemasan dengan tindakan menyangkal kecemasan (represi), mengeluarkan kecemasan diri dengan menim-pakannya ke objek luar diri (proyeksi), menyembunyikan kecemasan dengan menggunakan emosi yang berlawanan (pembentukan reaksi), serta menjadi tertahan pada suatu tahap perkembangan psikologis (fiksasi) atau penyurutan diri ke tahap perkembangan psikologis sebelumnya (regresi). 
            Dari uraian di atas dapat dipahami, bahwa meskipun agresi diakui oleh para psikoanalisis sebagai suatu bawaan, namun dalam perkembangannya individu tidak terlepas dari faktor ekternal yang mengelilinginya. Seseorang yang terjebak dalam keagresifan (misalnya karena pengalaman traumatis), bila ia gagal dalam mengung-kapkan, memindahkan atau menyublimasikan keagresifannya maka ia dapat mengalami neurosis, psikosomatis bahkan skizofrenia. 

            Gangguan kejiwaan sendiri diterangkan sebagai bentuk dari frustasi yang parah ketika seseorang tidak mampu menghadapinya. Dalam hal ini, agresivitas perwatakan individu dapat dipahami melalui alat-alat kepribadian yang bekerja untuk mengatasi frustasi dan juga membentuk khas perwatakan.

2). Agresivitas Setadewa
            Agar kajian tentang agresivitas perwatakan tokoh Setadewa lebih menyeluruh, maka akan diuraikan mengenai sejauh mana tingkat agresivitas tokoh Setadewa dan beberapa frustasi yang dialami oleh tokoh Setadewa. Kemudian, menyusul uraian tentang bekerjanya alat-alat kepribadian dalam mengatasi frustasi dan membentuk agresivitas perwatakan tokoh Setadewa.
            Tingkah Laku Agresif Tokoh Utama Setadewa Teto, alias Setadewa adalah orang yang memiliki agresivitas yang tinggi. Dalam novel Burung-Burung Manyar ditemukan ada tiga masa dalam kehidupan Setadewa yang memiliki objek agresi masing-masing. Pertama, saat Setadewa kanak-kanak. Kehidupan dunia anak kolong tangsi Magelang, rupanya telah memberi peluang bagi Setadewa kecil untuk bertingkah laku agresif. Objek agresi Setadewa pada masa kanak-kanak ini antara lain: noni-noni yang tinggal di tangsi Magelang, Atik alias Larasati kecil, Mike gadis bunga kelas SD, dan burung-burung yang menjadi sasaran pelanting Setadewa kecil. 
Kedua, saat Setadewa menjadi tentara NICA. Objek agresi pada saat Setadewa menjadi tentara NICA antara lain: bangsa Indonesia (para pejuang kemerdekaan Indonesia, rakyat yang tinggal di sekitar Klender, Tanah Abang sampai Kwitang, dan perdana menteri Syahrir), pasukan Inggris, rekan-rekan dalam pasukan NICA, dan benda mati (tembok, pintu, mobil). 
Ketiga, saat Setadewa ke luar dari NICA dan menjadi menejer produksi Pacific Oil Wells Company. Objek agresi Setadewa pada saat menjadi menejer produksi adalah perusahaan tempatnya berkerja, yakni Pacific Oil Wells Company.


3). Rasa Frustasi Tokoh Setadewa
Dalam novel Burung-Burung Manyar, tokoh Setadewa banyak mengalami kejadian yang membuatnya frustasi. Frustasi tersebut disebabkan oleh penghilangan, pengurangan, pertentangan, kekurangan pribadi, serta kecemasan.

            Ada beberapa penghilangan, yakni frustasi yang disebabkan karena objek tujuan disembunyikan atau diambil yang terjadi dalam hidup Setadewa. Kekalahan KNIL Belanda yang dibanggakannya, dianggapnya sebagai suatu penghilangan, seperti ungkap Setadewa, “Dunia serba gemilang kami telah cepat runtuh. Jepang datang. KNIL kalah dan bubar. (Mangunwijaya,2001:25) Penghilangan lain yang menyebabkan Setadewa frustasi adalah kehilangan kedua orang tuanya. Kemudian kehilangan tersebut ditambah lagi dengan kehilangan seorang gadis yang dicintai dan sangat berarti baginya, yakni Larasati. 
Selain frustasi karena penghilangan, Setadewa mengalami pula pertentangan dalam diri. Pertentangan di dalam diri ini dirasakan oleh Setadewa ketika ia harus menerima keadaan yang menimpa Maminya yang dirampas oleh Jepang, seperti ungkap Setadewa, ”O, Mamiku yang kasihan. Sungguh aku tidak pernah tahu, apakah aku harus merangkul menciummu dengan bangga, ataukah harus membunuhmu dengan benci. (hlm.. 32)
Hambatan dalam diri selain pertentangan batin dirasakan pula oleh Setadewa sebagai kekurangan pribadi. Setadewa seperti sadar akan dirinya yang memiliki kelemahan. Misalnya, perkawinan Setadewa dengan anak bosnya menjadi berantakan, karena kekurangan pribadi dalam menerima dan menyesuaikan diri dengan sang isteri. Bahkan, pada saat Setadewa akhirnya dapat bertemu dengan wanita yang dicintainya, yakni Larasati, Setadewa merasakan banyaknya hambatan dalam diri. Identifikasi Setadewa dengan burung manyar yang gagal dapat dikemukakan sebagai bukti adanya kekurangan pribadi dalam diri seperti ungkap Setadewa,”…tiba-tiba aku merasa sunyi, sedih dalam keadaanku yang dingin sendirian, seperti manyar yang gagal…(hlm. 208)
Hal lain sebagai penyebab frustasi Setadewa adalah kecemasan. Setadewa mengalami kecemasan moral dalam bentuk ketakutan terhadap hati nuraninya sendiri karena telah melakukan perbuatan yang melanggar ukuran moral ayahnya. Ketidakmampuannya untuk menghindar dari moralitas ayahnya tidak lain karena moralitas tersebut telah terinternalisai dalam dirinya, seperti terdapat dalam kutipan berikut:
Dari lubuk hatiku toh aku digugat jiwa ayahku yang seolah-olah membentak juga dalam bentakan-bentakanku: “Bukan begitu caranya menghadapi gentleman! Biar mereka pemberontak sekali pun.” Darahku masih mendidih memang, akan tetapi rasio Officier Brajabasuki toh masih kuat dari kebinatanganku. (hlm.61)
Bahkan rasa bersalah sebagai wujud dari kecemasan karena telah melakukan perbuatan yang melanggar tuntutan hati nurani dialami oleh Setadewa sebagai perasaan sedang diintai, seperti ungkapnya, “Rasaku, kaum Republik dari gunung-gunung di kejauhan itu semuanya sedang mengamat-amatiku”. (hlm. 119)


UNSUR EKSTRINSIK
PENGARANG
Y.B. Mangunwijaya






1.    Riwayat Hidup Pengarang
Nama Lengkap Romo mangun adalah Yusuf Bilyarta Mangunwijaya. Dua huruf, Y.B., di depan nama Mangunwijaya merupakan gabungan nama baptis Yusuf, dan nama kecil Romo mangun, yakni Bilyarta. Kemudian tambahan huruf Pr., adalah sebutan untuk imam diosesan atau romo projo.
Kemudian, dari pernikahan Yulianus Sumadi Mangunwijaya dengan Serafin Kamdinijah yang juga berprofesi sebagai guru Sekolah rakyat , melahirkan Romo mangun pada 6 Mei 1929 M. di Ambarawa, Jawa Tengah. Romo mangun, sebutan akrabnya, ialah anak sulung dengan sebelas adik, tujuh diantaranya perempuan. Dari keluarga besar tersebut, hanya Romo Mangun yang menjadi seorang biarawan
Dalam riwayat pendidikan, pada tahun 1936, Pastor yang pada periode Orde baru dijuluki komunis berjubah rohaniawan itu memulai memasuki sekolah di HIS Fransiscus Xaverius, Muntilan Magelang. Kemudian setelah tamat, tahun 1943, ia meneruskan studinya ke STM Jetis Yogyakarta. Ketika di STM ini, ia mengikuti kingrohosi yang diadakan tentara Jepang di lapangan Balapan Yogyakarta dan mulai tertarik mempelajari sejarah dunia dan filsafat. Kemudian, setelah satu tahun STM Jetis dibubarkan pada tahun 1944, dan gedungnya dijadikan markas perjuangan tentara RI, Romo Mangun muda mendaftarkan diri menjadi prajurit TKR Batalyon X divisi III dan bertugas di asrama militer di Benteng Vrederburg, lalu di asrama militer di Kota Baru Yogyakarta. Pada tahun ini, ia ikut dalam pertempuran di Ambarawa, Magelang, dan di Marnggen.
 Ketika sekolah STM Jetis dibuka kembali, tahun 1946, ia melanjutkan sekolahnya lagi hingga lulus tahun 1947. Ketika masih sekolah di STM Jetis yang kedua ini, karena semangatnya untuk berjuang tetap tinggi, ia menggabungkan diri dalam Tentara Pelajar dan ia sempat pernah bertugas menjadi sopir pendamping Panglima Perang Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk memeriksa pasukan
Setelah lulus dari STM Jetis, yakni tahun 1947, dan pada saat agresi militer Belanda I, ia tergabung dalam TP Brigade XVII sebagai komandan kompi TP Kompi Kedu. Dan setahun kemudian ia melanjutkan belajarnya di SMU-B Santo Albertus Malang dan lulus pada tahun 1951. ketika di Albertus, tepatnya pada tahun 1950, ia mewakili pemuda Katolik menghadiri perayaan kemenangan RI di alun-alun kota Malang. Di sini Mangun mendengar pidato Mayor Isman yang kemudian sangat berpengaruh bagi masa depannya
Pilihan hidup menjadi Pastor membuat Romo Mangun melanjutkan sekolah di seminari. Pertama masuk ke Seminari Menengah di Kotabaru, 1951, kemudian pada tahun 1952 ia pindah ke Seminari Menengah Petrus Kanisius, Martoyudan Magelang. Setelah lulus tahun 1953, ia melanjutkan studinya ke Seminari Tinggi, sekolah di Institut Filsafat dan Teologi Santo Paulus di Kotabaru. Salah satu pengajarnya adalah Uskup Soegijapranata,
Ketika di Seminari, teman-temannya mengenal Romo Mangun sebagai seorang yang kreatif dan piawai dalam menulis. Terkait bakat sastranya, memang sudah berkembang sejak di Sekolah Dasar ketika Mangun Muda dididik untuk mampu terampil berbicara di depan umum dan menulis gagasan yang runtut dan argumentatif. Jalur sastra dan karya tulis kemudian dipakai Romo Mangun sebagai alat dan wujud perjuangan kemanusiannya. Menurut Utomo, salah satu yang menyuburkan bakat kepengarangan Romo Mangun adalah latihan berbicara di depan kelas dan membuat karangan yang pada waktu itu disebut opsel
Pada tahun 1959, Romo Mangun melanjutkan pendidikannya di Teknik Arsitektur ITB dan tepat pada 8 September, ia ditahbiskan oleh Uskup Agung Semarang Mgr. Soegijapranata menjadi Imam. Setelah mengenyam pendidikan di ITB, 1960, ia melanjutkan studi arsitekturnya di Rheinisch Westfaelische Technische Hochschule di Aachen Jerman dan lulus pada tahun 1966. ketika di luar negeri, yaitu pada tahun 1963, ia sempat menemani saat Uskup Soegijapranata meninggal dunia di biara suster Pusat Penyelenggaraan Ilahi di Harleen, Belanda.
Setelah kembali ke Indonesia, ia menjadi Pastor Paroki di Gereja Santa Theresia, Desa Salam Magelang. Kemudian, pada tahun antara 1967 sampai 1980, selain ia menjadi seorang Pastor dan Dosen Luar Bisaa jurusan Arsitektur di UGM, ia juga mulai berhubungan dengan para pemuka agama lain, seperti Gus Dur dan Ibu Gedong Bagoes Oka. Dan pada tahun-tahun inilah Romo Mangun mulai menulis artikel untuk koran Indonesia Raya dan kompas, tulisan-tulisannya kebanyakan bertema: agama, kebudayaan, dan teknologi. Juga menulis cerpen dan novel. Dengan penulisan cerpen, pada tahun 1975 ia memenangkan Piala Kincir Emas dari radio Nederland.
Setelah selesai mengikuti kuliah singkat tentang masalah kemanusiaan sebagai Fellow of Apsen Institute for Humanistic Studies di Aspen Colorado AS karena dorongan dari Dr. Soedjatmoko, ia melakukan pendampingan pada warga Kali Code yang terancam penggusuran. Untuk menolak penggusuran ini, ia melakukan protes mogok makan. Pendampingan ini berlangsung mulai tahun 1980 hingga tahun 1986. karena pengupayaan dan pembuatan perumahan untuk warga Kali Code, pada tahun 1992, ia mendapat. Kemudian, pada tahun 1986 sampai 1994, ia melakukan pendampingan lagi, yakni pada warga Kedung Ombo yang menjadi korban pembuatan waduk dan mendirikan Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar (DED) dan menerapkan atau mengoprasikan eksperimennya di SD Kanisius Mangunan (SDKM) yang bertempat di Dusun Mangunan, Desa Kalitirto, Kec. Berbah, Kabupaten Sleman, sekitar 12 kilometer di sisi timur Yogyakarta. Tujuan Romo Mangun mendirikan DED dan SDKM ialah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi anak-anak miskin. Sebab, menurut Romo Mangun, selain Pendidikan Nasional tidak memberikan kesempatan pada mereka, Kurikulum yang diberikanpun tidak sesuai dengan keadaan dan kehidupan anak-anak miskin.
Pada tahun 1998, tepatnya pda tanggal 26 Mei, ia menjadi salah satu pembicara utama dalam aksi demonstrasi peringatan terbunuhnya Moses Gatutkaca di yogyakarta. Dan setahun kemudian, tepat pada tanggal 10 Februari 1999, setelah memberikan ceramah dalam seminar yang bertema “meningkatkan peran buku dalam upaya membentuk masyarakat Indonesia baru” di hotel Le Maridian Jakarta, Romo Mangun meninggal dunia karena serangan jantung. Peristiwa ini mengingatkan dan sekaligus menjawab harapannya seperti yang diungkapkan Romo Muji Sutrisno, “Beliau selalu meminta kepada Tuhan, ingin meninggal dalam tugas”. Romo Mangun meninggal ketika menunaikan tugas mulia  sebagai Guru Bangsa, mempersiapkan pemikir-pemikir cerdas untuk membangun masyarakat baru Indonesia.
Mohamad Sobary yang melepas kepergian Romo Mangun dalam pelukannya mengatakan, “Romo Mangun adalah seorang Indonesia baru karena yang dibayangkannya adalah masa depan dan pemikirannya mendahului zaman sekarang.  Sekalipun telah meninggal, dalam wasiatnya Romo Mangun tetap menginginkan agar tubuhnya masih bermanfaat untuk proyek kemanusiaan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Faruk HT, ” Romo Mangun berwasiat agar jasadnya diserahkan kepada Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada untuk dimanfaatkan bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan”. Namun wasiat yang terakhir ini oleh sahabat-sahabatnya tidak dikabulkan.
KEADAAN MASYARAKAT


        Nilai-nilai novel Burung-Burung Manyar
            Nilai-nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Burung-burung Manyar adalah (a) nilai hedonisme, nilai kesenangan dan kenikmatan atas dasar penangkapan inderawi, (b) nilai vital kehidupan, yang mendukung kehidupan dan peradaban menyangkut pengalaman yang lebih mendalam, (c) nilai kerohanian, nilai esteti menyangkut rasa keindahan nilai epistemologis dan (d) nilai kesucian, tataran tingkat tertinggi pencapaian rasa dan keheningan batin manusia dalam kehidupan di dunia.








BAB III
PENUTUP


KESIMPULAN
Kesimpulan yang bisa dipetik antara lain, kedewasaan adalah ketika seseorang mampu hidup untuk orang lain, mengalahkan ego pribadinya. Hal yang menghindarkan Atik dengan Teto dari perbuatan zina adalah kelebatan anak-anak Atik dalam pikiran kedua orang itu. Semakin dewasa, manusia tidak bisa selalu menuruti keinginannya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan dengan arif. Jati dirilah yang akan menyelaraskannya.
Satu hal yang sayang untuk dilewatkan adalah kisah percintaan antara Teto dengan Atik, juga Jana dengan Atik, dan cinta kasih antara Teto dengan Jana. Selain itu, keunggulan roman ini adalah pada penceritaannya yang menggunakan sudut pandang yang tidak biasa, yaitu melalui tuturan seorang yang semula antinasionalis. Dengan demikian roman ini menegaskan bahwa segala sesuatu bergantung pada perspektif atau sudut pandang.

SARAN
1.      Saran
Saran-saran ini ditujukan kepada pendidik dan tenaga kependidikan, para peneliti sastra, penulis buku dan sastrawan untuk dapat dijadikan sebagai bahan  pertimbangan dalam mengabdikan tugas-tugas mereka. 
1)      Untuk Pendidik
a.       Novel  Bekisar Merah sangat baik digunakan sebagai bahan pelajaran sastra.
b.      Nilai pendidikan yang terkandung dalam  Bekisar Merah sangat baik untuk nilai pendidikan bagi siswa SMA dan generasi muda umumnya. Pendidikan nilai moral dan pendidikan nilai budaya serta pendidikan agama sangat baik ditanamkan kepada generasi muda.
2)      Penyusun buku pelajaran
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan penyusunan materi buku ajar.
3)      Pembaca
a.       Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembaca. Khususnya mengenai pembahasan tokoh dan perwatakannya.
b.      Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca mengenai nilai-nilai pendidikan yang ada didalamnya.
4)      Peneliti berikutnya
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk penelitian berikutnya ketika menganalisis karya sastra.


0 komentar:

Poskan Komentar